Biennale Jogja XIII melahirkan beragam kolaborasi lintas seniman. Salah satunya terangkum dalam sebuah karya bertajuk Black Market Museum. Karya instalasi ini melibatkan perupa asal Nigeria Olanrewaju Tejuoso bersama Prison Art Programs asal Jogjakarta.

Keunikan dari karya ini yakni memanfaatkan bangunan yang terbengkalai. Dalam hal ini bangunan sisi barat Bakmi Kadin. Bangunan yang terletak di Bintaran Kulon Jogjakarta ini diubah sedemikian rupa hingga menyerupai sebuah museum.

”Jadi konsepnya memang memanfaatkan barang yang terbengkalai dan tidak terpakai. Saat awal datang ke sini keadaannya sangat tidak terawat. Kita bersihkan lalu kita manfaatkan sebagai ruang kreasi. Penggarapan karya ini memakan waktu tiga minggu,” kata Olanrewaju Tejuoso, Selasa (3/11) lalu.

Olan, sapaannya, sebagai penggagas utama memanfaatkan beragam barang tak terpakai. Ini terlihat dari beragam karya instalasi yang terpasang di seluruh penjuru bangunan. Mulai dari kantong plastik, pembungkus makanan hingga sisa kulit binatang.

Penggunaan barang bekas pakai ini, menurutnya, wujud kampanye, di mana barang-barang yang awalnya dianggap sampah dapat memiliki nilai seni. Bahkan, mampu menyampaikan beragam pesan kepada publik yang melihatnya.

Salah satu karya yang mampu mencuri perhatian adalah puluhan plastik bungkus kecil. Dalam plastik ini berisi remah kayu, arang, abu hingga tanah. Bungkusan-bungkusan ini, menurut Olan, menggambarkan budaya obat yang sangat kuat di Nigeria.

”Pemanfaatan obat di Nigeria sangatlah tinggi. Sayangnya, tidak hanya sebagai obat untuk mengobati tapi menjadi psikotropika. Orang mencampur tanpa mengetahui komposisinya. Seharusnya menjadi penyembuh malah bisa membunuh,” ungkap seniman asal Abeokuta, Nigeria ini.

Olan mengungkapkan, konsep Biennale Jogja yang mempertemukan seniman dalam satu ruang memberikan paradigma tersendiri. Terutama tentang persamaan sudut pandang antara negaranya Nigeria dengan Indonesia, khususnya Jogjakarta.

”Saya melihat antara Jogjakarta dan Nigeria memiliki beberapa kesamaan di berbagai aspek. Seperti pelayanannya, sistem transportasi hingga sistem sosial dalam masyarakat. Keduanya hampir sama meski beda negara bahkan benua,” katanya.

Selain karya Olan, puluhan frame foto dari Pewarta Foto Indonesia (PFI) Jogjakarta juga turut dipajang. Olan mengungkapkan, karya foto jurnalistik memiliki nilai yang kuat. Terutama menggambarkan dinamika dalam suatu daerah tersebut.

“Foto memiliki pesan yang kuat untuk disampaikan. Menghadirkan gambaran asli dari keadaaan lingkungan di sini,” terangnya.